Bukareh, Humas—Tiga momentum istimewa beriringan di MTsN 1 Agam, Kamis (1/10/2026). Hari Kesaktian Pancasila diperingati melalui upacara, Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat turut dirayakan dengan nuansa adat Minangkabau, sementara tanggal yang sama menjadi hari ulang tahun ke-57 Kepala MTsN 1 Agam, Desmawita, S.Pd., M.Pd.
Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila berlangsung khidmat di lingkungan madrasah dengan mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”. Bertindak sebagai pembina upacara, Desmawita menyampaikan amanat yang mengajak seluruh keluarga besar madrasah memaknai Pancasila bukan sekadar sebagai dasar negara, tetapi sebagai nilai yang harus hidup dalam keseharian.
Dalam amanatnya, Desmawita menegaskan bahwa makna “kesaktian” Pancasila bukanlah sesuatu yang bersifat mistis. Kesaktian Pancasila, menurutnya, tercermin dari keteguhan ideologi bangsa yang telah teruji dan tetap menjadi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kesaktian bukan berarti Pancasila itu sakti secara mistis, tetapi Pancasila telah teruji kokoh, kuat, dan mampu bertahan dari berbagai ancaman yang ingin menggantinya,” ujarnya.
Ia kemudian mengajak warga madrasah mengambil tiga makna penting dari peringatan tersebut, yakni memperkuat keimanan dan persatuan, menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam proses belajar, serta membangun generasi yang sehat dan berkarakter.
Menurut Desmawita, nilai Pancasila dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana di lingkungan madrasah. Peserta didik dapat mengamalkannya dengan disiplin belajar, jujur saat ujian, menghormati guru dan orang tua, serta saling membantu dengan sesama teman.
“Itulah Pancasila yang hidup,” tegasnya.
Ia juga mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan semangat Madrasah Sehat yang tengah dibangun. Menurutnya, generasi yang kuat tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga kesehatan jasmani, rohani, dan akhlak.
“Mari kita bangun pribadi yang sehat jasmani, sehat rohani, dan sehat akhlaknya,” ajaknya.
Peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat turut memberi warna tersendiri dalam pelaksanaan upacara. Sebagai bentuk partisipasi dan penghormatan terhadap momentum hari jadi provinsi, ASN dan GTK MTsN 1 Agam tampil mengenakan pakaian adat Minangkabau berupa baju basiba yang dipadukan dengan kain songket.
Balutan busana adat tersebut menghadirkan suasana berbeda di lingkungan madrasah. Nuansa Minangkabau tidak hanya menjadi simbol identitas budaya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya daerah di tengah generasi muda.
Kehadiran GTK dalam balutan baju basiba dan songket juga menjadi pesan bahwa pendidikan karakter di madrasah tidak hanya dibangun melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui keteladanan dalam menghargai dan melestarikan budaya lokal.
Momentum Hari Jadi ke-81 Sumatera Barat dengan semangat “Sumbar Tumbuh, Sumbar Tangguh” menjadi pengingat bagi keluarga besar MTsN 1 Agam untuk terus berkontribusi dalam membangun generasi yang berakar pada budaya, kuat dalam karakter, dan mampu menghadapi perkembangan zaman.
Kecintaan terhadap Sumatera Barat dan budaya Minangkabau, bagi madrasah, berjalan seiring dengan semangat kebangsaan. Nilai adat, budaya, agama, dan pendidikan terus dipadukan untuk membentuk peserta didik yang memiliki jati diri kuat sekaligus mampu berkembang di tingkat nasional maupun global.
Di balik kekhidmatan upacara, suasana haru dan bahagia kemudian hadir ketika guru, tenaga kependidikan, dan siswa-siswi MTsN 1 Agam memberikan kejutan untuk Desmawita yang pada hari tersebut genap berusia 57 tahun.
Kejutan sederhana tersebut menjadi momen yang tidak disangka-sangka. Ucapan selamat, doa, dan kebersamaan dari keluarga besar madrasah membuat peringatan 1 Oktober tahun ini terasa semakin istimewa bagi Desmawita.
Menerima kejutan tersebut, Desmawita menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh guru, pegawai, dan peserta didik yang telah memberikan perhatian dan doa di hari istimewanya.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu guru, pegawai, serta anak-anak semuanya atas kejutan, perhatian, doa, dan ucapan yang diberikan. Ini menjadi kebahagiaan dan kenangan yang sangat berarti bagi saya,” ungkapnya.
Baginya, bertambahnya usia bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk melakukan introspeksi dan memperkuat tekad dalam menjalankan amanah sebagai kepala madrasah.
“Harapan saya untuk diri sendiri, semoga di usia yang bertambah ini saya diberikan kesehatan, kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan untuk terus menjalankan amanah. Semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan memberikan pengabdian yang lebih bermanfaat,” tuturnya.
Sementara untuk MTsN 1 Agam, Desmawita berharap madrasah terus tumbuh menjadi lingkungan pendidikan yang semakin maju, sehat, berprestasi, dan penuh kebersamaan.
“Untuk madrasah, harapan saya semoga MTsN 1 Agam semakin maju, semakin banyak prestasi yang diraih, guru dan pegawainya semakin solid, anak-anak semakin berkarakter dan berprestasi, serta kita semua dapat memberikan yang terbaik untuk madrasah ini,” harapnya.
Tiga momentum yang hadir bersamaan pada 1 Oktober tersebut akhirnya menjadi satu rangkaian yang sarat makna. Kesaktian Pancasila mengingatkan pentingnya persatuan, Hari Jadi Sumatera Barat meneguhkan kecintaan terhadap daerah dan budaya, sementara bertambahnya usia Kepala Madrasah menjadi ruang untuk bersyukur sekaligus memperbarui semangat pengabdian.
Dari MTsN 1 Agam, 1 Oktober tidak sekadar menjadi tanggal dalam kalender. Ia menjadi momentum untuk meneguhkan persatuan, merawat budaya, memperkuat karakter, sekaligus menyemai semangat pengabdian untuk madrasah, Sumatera Barat, dan Indonesia.



