Loading...
Sekolah Adiwiyata
Madrasah Riset

BERITA

Supervisi Dimulai, MTsN 1 Agam Pastikan PM dan KBC Tak Sekadar Konsep

04 Sep 2026

Semester Gasal Tahun Pelajaran 2026/2027

BUKAREH — MTsN 1 Agam mulai melaksanakan supervisi pembelajaran terhadap guru. Tidak sekadar menilai proses mengajar, supervisi kali ini diarahkan untuk melihat secara nyata bagaimana Pembelajaran Mendalam (PM) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) diterapkan dalam proses pembelajaran di ruang kelas.

Kegiatan supervisi menjadi bagian dari komitmen MTsN 1 Agam untuk memastikan berbagai kebijakan dan inovasi pembelajaran tidak berhenti pada tataran konsep, perangkat pembelajaran, atau administrasi semata. Implementasinya harus tampak dalam interaksi guru dan peserta didik selama proses belajar berlangsung.

Melalui supervisi, proses pembelajaran diamati secara langsung, mulai dari kesiapan guru, perencanaan pembelajaran, penerapan strategi dan metode pembelajaran, keterlibatan aktif peserta didik, pemanfaatan media dan sumber belajar, pengelolaan kelas, pelaksanaan asesmen, hingga tindak lanjut pembelajaran.

Yang tidak kalah penting, supervisi juga melihat bagaimana prinsip Pembelajaran Mendalam dihadirkan dalam pembelajaran sehingga peserta didik tidak hanya menerima dan menghafal materi, tetapi mampu memahami, mengaitkan, mengaplikasikan, merefleksikan, serta menemukan makna dari apa yang dipelajari.

Di sisi lain, penerapan Kurikulum Berbasis Cinta juga menjadi perhatian. Nilai-nilai cinta diharapkan tidak hanya menjadi jargon, tetapi hadir dalam keseharian pembelajaran melalui sikap saling menghargai, kepedulian, empati, kasih sayang, penghormatan kepada guru dan sesama, serta terciptanya suasana belajar yang aman dan menyenangkan.

Kepala MTsN 1 Agam, Desmawita, menegaskan bahwa supervisi bukanlah kegiatan untuk mencari kesalahan guru, melainkan bagian dari proses pembinaan dan refleksi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

> “Supervisi ini bukan untuk mencari kekurangan guru, tetapi untuk melihat bersama apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu diperbaiki. Kita ingin PM dan KBC benar-benar terlihat dalam praktik pembelajaran, bukan hanya tertulis dalam perangkat atau menjadi sebuah konsep,” ungkapnya.

Menurutnya, guru merupakan ujung tombak dalam menentukan kualitas pembelajaran di madrasah. Karena itu, guru perlu terus mengembangkan kompetensi, melakukan refleksi, dan terbuka terhadap berbagai inovasi pembelajaran.

Kepala madrasah berharap pelaksanaan supervisi pada Semester Gasal ini dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan perkembangan peserta didik.

> “Harapan kami, supervisi ini tidak berhenti pada penilaian atau catatan administrasi. Setelah supervisi, ada refleksi dan ada perbaikan. Pembelajaran harus semakin bermakna, peserta didik semakin aktif, dan nilai-nilai cinta semakin terasa dalam kehidupan di madrasah,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa Pembelajaran Mendalam harus mampu membawa peserta didik pada pengalaman belajar yang tidak hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, karakter, dan kemampuan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.

Sementara melalui KBC, madrasah diharapkan mampu menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian, kasih sayang, akhlak, dan rasa tanggung jawab.

“Kita ingin anak-anak datang ke madrasah bukan hanya untuk mendapatkan ilmu, tetapi juga merasakan bahwa madrasah adalah tempat mereka tumbuh, dihargai, dibimbing, dan belajar menjadi manusia yang baik,”tambah Desmawita.

Pelaksanaan supervisi pembelajaran di MTsN 1 Agam diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat budaya refleksi dan perbaikan berkelanjutan di kalangan guru. Setiap temuan dalam supervisi akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran ke depan.

Dengan semangat tersebut, MTsN 1 Agam terus mendorong agar PM dan KBC benar-benar hidup di ruang-ruang kelas—bukan sekadar tertulis di atas kertas, tetapi terlihat dalam cara guru mengajar, cara peserta didik belajar, dan cara seluruh warga madrasah saling memperlakukan.

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah kebijakan pendidikan bukan diukur dari seberapa indah konsepnya dituliskan, tetapi seberapa nyata perubahan yang dirasakan peserta didik.