Bukareh— Nuansa adat Minangkabau mewarnai pelaksanaan upacara rutin Senin pagi di MTsN 1 Agam, Senin (28/9/2026). Jika biasanya upacara diwarnai pakaian dinas, kali ini ASN dan GTK tampil dalam balutan baju basiba hitam yang dipadukan dengan songket dan sarung tanah liek. Pemandangan tersebut menghadirkan suasana berbeda sekaligus menjadi bagian dari semarak menyongsong Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat yang puncaknya diperingati pada 1 Oktober 2026.
Bukan sekadar tampilan, pakaian adat yang dikenakan para ASN dan GTK tersebut menjadi bentuk partisipasi sekaligus penghormatan terhadap kekayaan budaya Minangkabau. Semangat mengenakan busana tradisional itu sekaligus mengingatkan bahwa peringatan Hari Jadi Sumbar tidak hanya tentang bertambahnya usia daerah, tetapi juga tentang menjaga identitas dan warisan budaya yang melekat pada masyarakatnya.
Penggunaan pakaian adat tersebut merupakan tindak lanjut Surat Edaran Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat Nomor B/973/Kw.03/KS.02/09/2026 tentang Partisipasi Peringatan Hari Jadi Sumatera Barat ke-81 Tahun 2026. Melalui edaran tersebut, ASN dan GTK di lingkungan madrasah mengenakan pakaian adat dalam melaksanakan tugas mulai 25 September hingga 1 Oktober 2026.
Pelaksanaan upacara berlangsung tertib dengan siswa kelas VIII.3 bertindak sebagai petugas upacara di bawah bimbingan wali kelas Elya Ningsih. Sementara itu, Jefri firdaus dipercaya sebagai pembina upacara yang menyampaikan pesan penting tentang kedisiplinan kepada seluruh peserta.
Dalam amanatnya, Jefri Alfirdaus menegaskan bahwa disiplin bukan sekadar menjalankan aturan, melainkan kebiasaan yang perlu dibangun secara konsisten. Menurutnya, seseorang yang telah terbiasa hidup disiplin akan memandang aturan sebagai bagian dari jalan menuju keberhasilan, bukan sebagai beban.
“Bagi orang yang sudah terbiasa disiplin, aturan akan menjadi cara untuk mencapai kesuksesan. Sebaliknya, bagi yang belum terbiasa, aturan memang terasa berat. Karena itu, disiplin harus dibiasakan,” ujarnya.
Ia mengingatkan peserta didik bahwa keberhasilan tidak lahir hanya dari kemampuan akademik, tetapi juga dari kebiasaan baik yang dilakukan secara terus-menerus. Datang tepat waktu, mematuhi tata tertib, mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh, serta bertanggung jawab terhadap tugas merupakan bagian dari latihan disiplin yang harus dimulai sejak di bangku madrasah.
“Kalau disiplin sudah menjadi kebiasaan, sesuatu yang awalnya terasa berat akan menjadi ringan. Dari kebiasaan itulah karakter dan tanggung jawab terbentuk,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh siswa bahwa kedisiplinan bukan sekadar kewajiban di lingkungan madrasah, tetapi bekal penting dalam kehidupan. Sebab, kebiasaan menghargai waktu, menaati aturan, dan bertanggung jawab atas tugas merupakan karakter yang akan terus dibawa hingga masa mendatang.
Di tengah semarak pakaian adat Minangkabau, upacara Senin pagi di MTsN 1 Agam pun menjadi lebih dari sekadar agenda rutin. Kepala MTsN 1 Agam, Desmawita, memberikan apresiasi kepada seluruh ASN dan GTK yang turut berpartisipasi mengenakan pakaian adat sebagai bentuk dukungan terhadap semarak Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat. Menurutnya, momentum tersebut tidak hanya menghadirkan suasana berbeda di lingkungan madrasah, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya daerah sekaligus memperkuat karakter peserta didik. Semangat melestarikan budaya dan membangun kedisiplinan diharapkan dapat terus berjalan beriringan sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan madrasah yang berkarakter dan berbudaya.



